PERGESERAN BUDAYA KOTA CIKARANG

PERGESERAN BUDAYA DAN BAHASA DI KOTA CIKARANG PADA MASA MENDATANG

Seiring perubahan jaman bahasa dan budaya di Cikarang banyak mengalami perubahan bahkan bisa dikatakan mengalami asimilasi atau adanya budaya baru, hal ini dikarenakan jumlah pendatang yang dari luar Jawa Barat sangat mendominasi jumlahnya, perbandingannya pun sangat signifikan yaitu sekitar 70% untuk pendatang dan hanya 30% untuk penduduk asli. Daerah Cikarang yang teritorial nya sangat berdekatan dengan ibukota Jakarta menjadi primadona bagi para pencari rupiah, selain itu juga pertumbuhan yang cepat di sektor industri  menjadikan kota Cikarang ber-UMR cukup tinggi dibandingkan kota-kota lain, dan menduduki peringkat ke dua di bawah kota Karawang dalam sekala nasional, sehingga masyarakat dari berbagai suku akan bertumpu di kota Cikarang. Dari hal yang disebutkan tadi tentu sangat sulit mengembalikan kebudayaan dan bahasa Sunda sebagai kebudayaan dan bahasa asli masyarakat Cikarang.

Bahasa ibu atau bahasa asli yang digunakan dalam kehidipan sehari-hari hanya ada di wilayah pedesaan yang jauh dari keramaian, hal ini dikarenakan masih kental nya budaya dan bahasa yang belum terkontaminasi dari budaya lain karena minimnya pendatang, sosial ekonomi wilayah pedesaan yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan peternak tentu kurang daya tariknya bagi para pencari kerja dari daerah lain, lain halnya dengan wilayah perkotaan yang dianggap menjanjikan, sehingga mereka berbondong-bondong untuk merantau mencari uang.

Bahasa pergaulan anak di sekolah ataupun diluar sekolah di kota Cikarang sudah minim sekali yang menggunakan bahasa Sunda, hal ini dikarenakan adanya perbedaan latar belakang orang tua yang dari berbagai suku, sehingga mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa nasional atau bahasa Indonesia. Berbeda halnya dengan anak sekolah di wilayah pedesaan yang tentunya masih berkomunikasi dengan bahasa Sunda karena latar belakang orang tua mereka pun tidak jauh berbeda.

Pemertahanan dan pergeseran bahasa adalah dua gejala kebahasaan yang saling terkait. Kedua gejala bahasa ini juga tidak bisa terlepas dari gejala kompetisi bahasa. Bahasa dikatakan mengalami pergeseran ketika suatu masyarakat mulai meninggalkan bahasa tradisionalnya (bahasa daerah atau bahasa ibu). Begitu pun halnya dengan bahasa Sunda, masyarakat Sunda saat ini mulai mengacuhkan bahasanya sendiri karena gempuran iptek. Upaya untuk menghindari kepunahan bahasa diperlukan strategi. Hal yang dimaksud adalah sikap pemertahanan bahasa oleh masyarakat penuturnya. Pemertahanan bahasa merupakan kesetiaan terhadap suatu bahasa untuk tetap menuturkan bahasa khususnya, bahasa ibu (daerah) di tengah-tengah gempuran bahasa lain yang kian populer.


Comments