CONTOH MAKALAH STUDY ISLAM DI BARAT
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam
adalah agama yang kaya akan keilmuan. Dalam agama islam banyak hal yang menarik
untuk diteliti dan dikaji. Agama samawi yang dibawa oleh Muhammad sebagai
tangan kanan Allah SWT, ini membawa begitu banyak hal (keilmuan) yang
membuatnya menjadi menarik bagi para peneliti dan pencinta ilmu untuk dikaji
tak terkecuali orang barat. Lantas apa maksud dan kenapa orang barat meneliti
ilmu islam(studi islam), apa sejarahnya dan bagaimana pula metode penelitian
yang digunakan.
Maka
dari itu berkenaan dengan hal tersebut, dalam makalah ini akan saya coba untuk
sedikit mengkaji hal tersebut di atas.
A.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana proses
Masuknya islam di Barat?
2.
Latar Belakang
studi islam dan Model pendekatan kajian islam di barat?
3.
Apa itu Orientalisme?
B.
Tujuan
Masalah
Memberi
pengetahuan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan studi islam di barat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Masuknya Islam di Barat
1. Masuknya
Islam di Eropa(Spanyol)
Spanyol
diduduki umat Islam pada zaman Khalifal al-Walid (705 – 715 M), salah seorang
khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan
Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai
salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika
Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685 – 705 M). Setelah kawasan
ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam memusatkan perhatiannya untuk
menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum
muslimin dalam penaklukkan wilayah Spanyol.
2. Masuknya
Islam di Amerika
Berbagai
literatur, membuktikan bahwa Islam telah masuk ke Benua Amerika lima abad
sebelum Christopher Colombus menemukannya. Ia adalah seorang penjelajah dan
pedagang asal Genoa, Italia. Christopher Colombus menyeberangi Samudera
Atlantik dan sampai ke benua Amerika pada tanggal 12 Oktober 1492. Colombus
menjejakkan kakinya di Amerika di akhir abad ke-15 Masehi. Lima abad sebelum
Colombus tiba, para pelaut Muslim dari Granada dan Afrika Barat sudah
menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali oleh
suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya. Imigran Muslim pertama di
daratan ini tiba sekira tahun 900 Masehi sampai setengah abad kemudian pada
masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasy Ibn Said Ibnu Aswad
dari Cordova. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pada suku-suku
asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu
antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.
B.
Latar
Belakang Studi Islam di Dunia Barat
Masa
Renaisance (abad pertengahan : 1250-1800 M) adalah masa dimana peradaban Barat
menuai kebangkitannya sementara peradaban Islam mengalami stagnasi. Renaisance
membawa perubahan baru bagi dunia Barat dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan
Ekonomi. Dan perkembangan tersebut
banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Sebagaimana kita ketahui di masa
kejayaan Islam, Andalusia (Spanyol) pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah
merupakan salah satu tempat yang mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan,
politik, sosial, dan ekonomi. Terbukti dengan adanya beberapa universitas Islam
yang didirikan. Seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan
Salamanca. Pada waktu itu beberapa tokoh-tokoh Barat datang mengunjungi
universitas-uninersitas tersebut untuk memperdalam ilmu mereka. Selama mereka
belajar, mereka melakukan penerjemahan ilmu-ilmu karya tokoh-tokoh muslim
kedalam bahasa Latin. Hal ini didukung oleh King Frederick H (mantan Kaisar
Holy Roman Empire : 1215-1250) yang dipimpin oleh Petrus Venerabilis dengan
cara membayar orang Spanyol sebagai penerjemah. Kegiatan ini berpusat di Toledo
dan Palemo.
Dan
ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing, mereka ditantang oleh Paus di
Vatikan untuk mendirikan universitas-universitas serupa. Kemudian berdirilah
perguruan tinggi-perguruan tinggi disemenanjung Italia, Padua, Florence,
Milano, Venezia, disusul oleh Oxford dan Cambridge di Inggris, Sorbone di
Francis, dan Tubingen Di Jerman. Setelah berdirinya universitas-universitas
diatas, membukakan jalan bagi Barat untuk mengembangkan dunia ilmu
pengetahuannya. Jadi jelaslah, sejarah Berkembanganya Studi Islam di Dunia
Barat adalah disebabkan para pelajar barat yang datang ke dunia timur untuk mengkaji ilmu. Disamping itu juga
mereka telah berhasil menterjemahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa
latin. Gerakan ini pada akhirnya menimbulkan massa pencerahan dan revolusi
industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia merupakan
sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat dari ilmu
dan budaya islam selama hampir tiga abad.
C. Model Pendekatan
Kajian Islam di Barat
Untuk
memahami lebih jauh kondisi kajian Islam di Barat, pertanyaan pertama yang
mendasar adalah bagaimana eksistensi kajian terhadap agama mereka sendiri?
Berkaca pada kajian agama yang dianut oleh masyarakat mereka, misalnya Kristen,
mereka rupanya banyak terlibat pada kajian teologi. Kajian teologi yang mereka
aktifkan adalah studi Bibel, etika, sejarah agama-agama, dan lain-lain. Ini
biasanya didapatkan pada institusi yang disebut dengan Divinity Schools
(sekolah ketuhanan), atau Seminary, misalnya yang terkenal di Amerika adalah
Hartford Seminary. Dalam perjalanan dan pengembangannya, bukan hanya menjadikan
masyarakat Barat sebagai lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di dunia
Islam.
Pertanyaannya,
bagaimana pola pendekatan yang digunakan dalam meneliti dunia Islam yang
sasarannya berupa masyarakat Islam dan ajaran Islam itu sendiri? Dalam perkembangan
terkini, terdapat empat pendekatan yang dipakai dalam mengkaji tentang
keislaman.
1) Mereka
menggunakan metode ilmu-ilmu yang masuk dalam kelompok humaniora (humanities),
seperti filsafat, filologi, ilmu bahasa, dan sejarah. Ajaran Islam berupa karya
para pemikir yang sudah termuat dalam teks-teks dijadikan sasaran penelitian
dengan pendekatan yang biasa diterapkan dalam disiplin-disiplin kelompok
humaniora. Bermula dari pendekatan filologi kemudian dengan pendekatan sejarah
yang sangat menonjol, kajian hukum Islam juga dilakukan dengan pendekatan
sejarah pemikiran hukum, seperti halnya yang dilakukan Joseph Schacht.
Sementara John Wansbrough dan muridnya Andrew Rippin dalam karyanya tentang
studi Al Qur’an berangkat dari kajian kritik bahasa atau literary analysis.
2) Mereka
menggunakan metode dalam disiplin teologi, studi Bibel, dan sejarah gereja, di
mana pendidikan formalnya diperoleh dari Divinity Schools. Dalam disiplin
itulah mereka menjadikan Islam sebagai lapangan penelitiannya. Para sarjana
dalam bidang ini mendapatkan pendidikan dari fakultas atau sekolah jenis ini.
Justru model inilah yang banyak dipraktikkan sebelum 1960-an, yakni pada waktu
area studies mengenai Timur Tengah, Timur Dekat, dan Asia Tenggara belum
terwujud. Oleh karena itu sering dijumpai orientalis yang juga sekaligus
pastur, pendeta, uskup, atau setidaknya misionaris.
3) Menggunakan
metode ilmu-ilmu sosial (sosial sciences), seperti sosiologi, antropologi,
politik, dan psikologi, meskipun disiplin-disiplin ini ada yang mengelompokkan
ke dalam humaniora. Mengenai metodologi penelitiannya, mereka menggunakan
metodologi yang biasa dipergunakan dalam disiplin ilmu-ilmu sosial, seperti
yang dilukakan oleh Leonard Binder sebagai seorang ahli politik dan Clifford
Geertz sebagai antropolog.
4) Menggunakan
pendekatan yang dilakukan di jurusan-jurusan, pusat-pusat, atau hanya
committee, untuk area studies, seperti Middle Eastern Studies, Near Eastern
Languages and Civilizations, dan South Asian Studies. Dengan demikian seseorang
bisa mendapat predikat ahli dalam bidang Islam atau keislaman setelah mendapat
training di salah satu dari tempat, sekolah, jurusan, pusat studi yang
bertanggungjawab untuk menyediakan atau melakukan kajian tersebut. Pendekatan
yang dipakai sesuai dengan sasaran penelitiannya, sehingga kembali pada
model-model pendekatan yang dilakukan oleh disiplin-disiplin tersebut di atas.
Wadah area studies ini cenderung menonjol untuk Kajian Islam di Barat.
Pendekatan
pertama sampai ketiga nampaknya lebih jelas, karena memakai disiplin-disiplin
yang sudah dianggap baku dan jurusan atau fakultas yang jelas pula—meskipun ada
tuntutan spesifikasi dari segi metodologi ketimbang jika sasarannya selain
Islam. Sedangkan areastudies ini berlawanan dengan disiplin yang sudah baku,
karena lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat situasional daripada
teoretik.
D.
Orientalisme
1. Sejarah
Orientalisme
Orientalisme
didefiniskan sebagai pemahaman masalah-masalah
ketimuran. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, orient yang berarti
timur atau bersifat timur. Isme berarti
paham, ajaran, sikap atau cita-cita.
Secara analitis, orientalisme dibedakan atas: (1) keahlian mengenai wilayah
timur (2) metodologi dalam mempelajari masalah ketimuran, dan (3) sikap
ideologis terhadap masalah ketimuran, khususnya terhadap dunia Islam.
Orang
yang mempelajari masalah-masalah ketimuran (termasuk keislaman) disebut
orientalis. Para orientalis adalah ilmuwan Barat yang mendalami bahasa-bahasa,
kesustraan, agama, sejarah, adat istiadat dan ilmu-ilmu dunia Timur. Dunia Timur
yang dimaksud di sini adalah wilayah yang terbentang dari Timur Dekat sampai ke
Timur jauh dan negara-negara yang berada di Afrika Utara.
Minat
orang Barat terhadap masalah-masalah ketimuran sudah berlangsung sejak Abad
Pertengahan. Mereka telah melahirkan sejumlah karya yang menyangkut masalah
Dunia Timur. Dalam rentang waktu antara Abad Pertengahan sampai abad ini,
secara garis besar, orientalisme dapat
dibagi menjadi tiga periode, yaitu: (1) masa sebelum perang Perang Salib, di
saat umat Islam berada dalam zaman keemasannya (650-1250); (2) masa Perang
Salib sampai Masa Pencerahan di Eropa; dan (3) munculnya Masa Pencerahan di
Eropa sampai sekarang.
a. Masa
Sebelum Perang Salib
Di
saat umat Islam berada dalam zaman keemasan, negeri-negeri Islam, khususnya
Baghdad dan Andalusia (Spanyol Islam) menjadi pusat peradaban dan ilmu
pengetahuan. Bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia yang memakai
bahasa Arab dan adat-istiadat Arab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka
bersekolah di perguruan-perguruan Arab.
Diantara
raja-raja spanyol yang non-muslim (misalkan, Peter I (w.1104), raja Arogan),
ada yang hanya mengenal huruf Arab. Alfonso IV mencetak uang dengan memakai
tulisan Arab. Di Sicilia keadaannya juga sama. Raja Normandia, Roger I,
menjadikan istananya sebagai tempat pertemuan para filsuf, dokter-dokter, dan
ahli islam lainnya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ketika Roger II
bahkan lebih banyak dipengaruhi kebudayaan Islam. Pakaian kebesaran yang
dipilihnya ialah pakaian Arab. Gerejanya dihiasi dengan ukiran dan
tulisan-tulisan Arab. Wanita Kristen Sicilia meniru wanita Islam dalam soal
mode pakaian.
Peradaban
itu bukan hanya berpengaruh bagi bangsa Eropa yang berada dibawah atau bekas
kekuasaan Islam, tetapi juga bagi orang Eropa di luar daerah itu. Penuntut ilmu
dari Perancis, Inggris, Jerman, dan Italia, datang belajar ke perguruan dan
universitas yang ada di Andalusia dan Sicilia. Di antaranya terdapat
pemuka-pemuka agama Kristen, misalnya Gerbert d’Aurillac yang belajar di
Andalusia dan Adelard dari Bath (1107-1135) yang belajar di Andalusia dan
Sicilia. Gerbert kemudian menjadi Paus di Roma dari tahun 999-1003 dengan nama
Sylvester II. Adapun Adelard setelah kembali ke Inggris diangkat menjadi guru
Pangeran Hanry yang kelak menjadi Raja. Ia menjadi salah satu penerjemah
buku-buku Arab ke dalam bahasa Latin.
Dalam
suasana inilah muncul orientalisme di kalangan Barat. Bahasa Arab mulai
dipandang sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam bidang ilmiah dan
filsafat. Pelajaran bahasa Arab dimasukkan dalam kurikulum berbagai perguruan
tinggi Eropa, seperti di Bolagna (Italia) pada tahun 1076, Chartres (Perancis)
tahun 1117, Oxford (Inggris) tahun 1167, dan Paris tahun 1170. Munculnya
penerjemah generasi pertama, yakni Constatinus Africanus (w.1087) dan Gerard
Cremonia (w.1187).
Dalam
fase pertama ini, tujuan orientalisme ini memindahkan ilmu pengetahuan dan
filsafat dari dunia Islam ke Eropa. Ilmu pengetahuan tersebut diambil
sebagaimana adanya.
Pada
perkembangan berikutnya, perhatian orang Eropa terlihat kian meningkat.
Pelajaran bahasa Arab semakin digiatkan di universitas-universitas. Di Italia
pengajaran bahasa Arab diadakan di Roma (1303), Florencia (1321), Padua (1361),
dan Gregoria (1553), di Perancis diadakan di Toulouse (1217), Montpellier (1221),
dan Bourdeaux (1441); dan di Inggris dilaksanakan di Cambridge (1209). Di
bagian Eropa lainnya pelajaran bahasa Arab dimulai sesudah ke-15.
b. Dari
Perang Salib sampai Masa Pencerahan Eropa
Perang
Salib antara Kristen Barat dan Islam Timur yang berlangsung dari tahun
1096-1291 membawa kekalahan bagi golongan Kristen. Tidak lama setelah perang
agama ini selesai, Kerajaan Otoman (Usmani) mengadakan serangan-serangan ke
Eropa. Adrianopel jatuh pada tahun 1366, Constatinopel (Istanbul) jatuh pada
tahun 1453, bahkan Yerusalem dirampat umat Islam dan kemudian disusul wilayah
Balkan.
Kekalahan
dalam perang Salib dan jatuhnya Constatinopel merupakan pengalaman pahit
Kristen Eropa, sehingga raja-raja Eropa bersumpah untuk mengusir kaum “kafir”.
Maka muncullah semangat orang-orang Eropa untuk mengkritik, mengecam, dan
menyerang Islam dari berbagai kepentingan. Sebagai bias dari kebencian ini,
pengarang-pengarang orientalis mulai menulis buku-buku dengan gambaran yang
salah terhadap Islam. Hal-hal yang sebenarnya tidak terdapat dalam islam,
bahkan yang bertentangan mulai disiarkan ke Eropa.
Dalam
periode ini, para orientalis menggambarkan nabi Muhammad SAW sebagai orang yang
terserang epilepsy, gila perempuan, penjahat, pendusta, dan sebaganya. Oleh
karena itu agama yang dibawanya bukanlah agama yang benar. Yang benar adalah
agama Kristen yang dibawa Yesus Kristus.
Agama
Islam juga dikatakan mengajarkan Trinitas. Dua dari unsur trinitas itu adalah
Muhammad SAW dan Apollo. Disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad Saw disembah dalam
bentuk patung yang terbuat dari emas dan perak. Dikatakan juga Islam
membolehkan poliandri. Selanjutnya disebutkan pula bahwa orang Islam diwajibkan
membunuh orang Kristen sebanyak mungkin sebagai suatu jalan masuk surga. Islam
menurut mereka disiarkan dengan pedang, dalam arti pedang diletakkan di leher
orang agar dia masuk Islam. Jadi kesalahpahaman tentang Islam yang ditimbulkan oleh orientalis ketika itu
lebih parah daripada kesalahpahaman tentang Kristen yang ditumbulkan
tulisan-tulisan orang Islam.
c. Dari
Masa Pencerahan hingga Sekarang
Permusuhan
antara Kristen dan Islam yang timbul akibat adanya tulisan-tulisan negatif
mulai mereda setelah memasuki Masa Pencerahan (Enlightenment) di Eropa, yang diwarnai oleh keinginan untuk
mencari kebenaran. Pada masa ini kekuatan rasio mulai meningkat. Dalam sebuah
tulisan yang diperlukan adalah sifat obyektif, bukan mengada-ada. Mulailah
muncul tulisan-tulisan mengenai Islam
yang mencoba bersifat positif, misalnya tulisan-tulisan Voltaire
(1684-1778) dan Thomas Crlyle (1896-1947).
Tidak
semua tulisan mengenai Islam mengandung hal-hal yang menjelek-jelekkan, akan
tetapi telah mulai berisikan penghargaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan
Al-Qur’an serta ajaran-ajarannya. Jadi mereka mengadakan studi mengenai Islam
untuk mengetahui Islam yang sebenarnya.
Setelah
Masa Pencerahan, datanglah Masa Kolonialisme. Orang Barat datang ke negara
Islam untuk berdagang dan kemudian untuk mendudukkan bangsa-bangsa Timur. Untuk
itu bangsa-bangsa Timur perlu dikenal lebih dekat, termasuk agama dan kultur
mereka, karena dengan ini hubungan dagang menjadi lancar dan mereka mudah
ditundukkan.
Pada
masa ini muncullah karya-karya yang mencoba memberikan gambaran yang sebenarnya
tentang Islam,Misalnya ten tang agama dan adat istiadat Indonesia. Bahkan ketika Napoleon I
mengadakan eksperimen ke Mesir pada tahun 1798, ia membawa sejumlah orientalis
untuk mempelajari adat istiadat, ekonomi dan pertanian Mesir. Di antara
orientalis itu adalah Langles (ahli bahasa Arab), Villoteau (mempejari musik
Arab) dan Marcel (mmpelajari sejarah Mesir).
Pada
periode ini tulisan-tulisan para orientalis ditujukan untuk mempelajari Islam
subyektif mungkin, agar dunia Islam diketahui dan dipahami lebih mendalam. Hal
ini perlu karena orientalisme tidak bisa begitu saja terlepas dari
kolonialisme, bahkan juga usaha Kristenisasi.
Namun
begitu, awal abad ke-20 juga ditandai dengan munculnya para orientalis yang
berusaha menulis dunia Islam secara ilmiah dan obyektif. Orientalisme dijadikan
sebagai usaha pemahaman terhadap dunia Timur secara mendalam. Dalam tradisi
ilmiah baru ini, bahasa Arab dan pengenalan teks-teks klasik mendapat kedudukan utama. Diantara mereka
adalah Sir Hamilton A.R. Gibb, Louis Massignon, W.C. Smith, dan FrithjofSchoun.
Sir
Hamilton dan Gibb sangat menguasai bahasa
Arab dan dapat berceramah dengan bahasa ini, sehingga ia diangkat
menjadi anggota al-ajma’al al-Ilm al-Arabi (Lembaga Ilmu Pengetahuan Arab) di
Damascus dan al-Majma’ al-Lugho al-Arabiyyah (Lembaga bahasa Arab di Cairo), Mesir.
Ia memandang Islam sebagai agama yang
dinamis dan Nabi Muhammad SAW mempunyai ahlak yang baik dan benar.
Gibb
menulis buku tentang Islam dalam berbagai aspeknya hingga mencapai lebih dari
20 buah, sehingga oleh orientalis lain dipandang sebagai iman mereka tentang
Islam.
Sama
seperti Gibb, Louis Massignon juga mahir berbahasa Arab dan menjadi anggota
al-ajma’al al-Ilm al-Arabi dan al-Majma’ al-Lugho al-Arabiyyah. Ia pernah
menjadi dosen filsafat Islam di universitas Cairo. Ia mengatakan, berkat adanya
tasawuf, Islam menjadi agama internasional yang pengikutnya ada di seluruh
dunia.
W.C.
Smith mempunyai ilmu yang mendalam tentang Islam. Ia adalah pendiri Institut
Pengkajian Islam di Universitas McGill di Montreal, Canada. Ia mengatakan bahwa
Tuhan ingin menyampaikan risalah kepada manusia. Untuk itu Tuhan mengirim
rasul-rasul dan satu diantara rasul itu ialah Muhammad SAW.
Frithjof
Scoun menulis buku dengan judul Understanding Islam yang mendapat sambutan baik
dari dunia Islam. Sayid Husein Nasir (ahli ilmu sejarah dan filsafat),
misalkan, menyebut buku tersebut sebagai
buku terbaik tentang Islam sebagai agama dan tuntunan hidup.
Namun
tidak semua pendapat yang dimajukan para orientalis modern tentang Islam bisa
diterima kaum Muslimin, karena diantara mereka
ada yang salah dalam menginterpretasi terhadap ajaran-ajaran Islam.
Kegiatan
yang dilakukan orientalis meliputi: (1) mengadakan kongres-kongres secara
teratur yang dimulai di Paris tahun 1870-an dan di kota-kota lain di dunia
secara bergantian. Kongres-kongres pada mulanya bernama Orientalist Congress.
Sejak tahun 1870-an telah berganti nama menjadi International Congres on Asia
and North Africa; (2) mendirikan lembaga-lembaga kajian ketimuran, diantaranya
Ecole des Langues Orientalis Vivantes (1795) di Perancis, The School of
Oriental and African Studies, Universitas London, (1917) di Inggris, Oosters
Institut (1917) di Universitas Leiden, dan dan Institut voor het Moderne Nabije
Oosten (1956) di Universitas Amsterdam: (3) mendirikan organisasi-organisasi
ketimuran seperti Societe Asiatuque (1822) di Paris, American Oriental Society
(1842) di Amerika Serikat, Royal Asiatic Society di Inggris, dan Oosters
Genootschap in Nederland (1929) di Leiden; dan (4) menerbitkan majalah-majalah,
diantaranya Journal Asiatique (1822) di Paris, Journal of the Royal Asiatic
Society (1899) di London, Journal of the American Oriental Soceity (1849) di
Amerika Serikat, The Muslim World (1917) di Amerika Serikat. Majalah-majalah
ini sebagian besar masih terbit sampai sekarang.
Sebenarnya,
objek studi orientalisme tidak melulu Islam dan kebudayaannya. Studi terhadap
kebudayaan Cina masih termasuk dalam lingkup orientalisme. Namun, yang paling
kental mewarnai gelombang orientalisme adalah studi tentang Islam dan
kebudayaannya.
Diantara
para oreintalis tersebut, memang kita akui ada yang obyektif menilai Islam.
Tapi sebagian besar bersifat subyektif dan memiliki misi tertentu. Nama-nama
seperti Arthur Jeffry, Alphonse Mingana, Pretzal, Tisdal, Gadamer dan lain-lain
termasuk kelompok orientalis yang selama ini dikenal memusuhi Islam. Banyak karya tulis mereka
yang memojokkan Islam dan kaum muslimin.
Sir
Willliam Muir (1819-1905) tanpa ragu-ragu membuat pernyataan, “Islam sebagai
musuh peradaban, kebebasan, dan kebenaran sebagaimana diakui dunia”
Pernyataan
seperti ini bukanlah hal yang baru yang akan terus dilontarkan para orientalis.
Sangat wajar jika kemudian kaum muslimin merasa sakit hati dan tidak terima
dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Dan juga tidak wajar jika diantara
umat Islam merasa tidak sakit hati sebagaimana yang dinyatakan Lutfi.
2. Tokoh
Orientalis dan Ide-Idenya yang Sangat Berbahaya
Sale
dalam pengantar terjemah Al-Qur’annya (1736) berkata, “Al-Qur’anhanyalah
merupakan produk dan karanganMuhammad belaka. Dan itu tidak
bisadibantah.”Richard Bell menganggap bahwaMuhammad dalam menyusun Al-Qur’an
telah mengambil dari sumber-sumberYahudi, khususnya Perjanjian Lama,
dansumber-sumber Nashrani.Doisy (w. 1883)menganggap bahwa Al-Qur’an
mengandungselera sangat buruk. Di dalamnya tidak adayang baru, kecuali sedikit.
Selain gayabahasanya yang tidak menarik, kalimat-kalimatnyaterlalu panjang
danmembosankan.
Dibalik
konspirasi kaum orientalis, ternyata ada orientalis nyeleneh yang bersikap baik
terhadap Islam dan umat Islam. Hardrian Roland (1718), professor bahasa-bahasa
Timur di Universitas Utrecht, Belanda, menulis buku Muhammadanism dua jilid
dalam bahasa Latin (1705), tetapi gereja-gereja di Eropa memasukkan buku
tersebut ke dalam daftar buku-buku terlarang. Johan J. Reiske (1716-1774),
seorang orientalis Jerman pertama yang patut diingat. Ia dituduh zindik
(atheis) karena sikapnya yang positif terhadap Islam. Ia hidup menderita dan
mati karena sakit paru-paru. Ia sangat berjasa dalam mengembangkan dan
menampilkan Arabic Studies di Jerman.
Silvestre
de Sacy (w. 1838), orientalis di bidang sastra dan nahwu. Ia menghindari
terlibat pengkajian Islam. Ia sangat berjasa dalam menjadikan Paris sebagai
Pusat Pengkajian Bahasa Arab. Salah seorang yang pernah berhubungan dengan
beliau adalah Asy-Syaikh Rifa’ah at-Thahthawi. Buku-buku Z. Honkh dinilai
objektif karena menampilkan pengaruh peradaban Arab terhadap Barat. Diantara
yang termasyhur ialah Matahari Arab Bersinar di Barat. Thomas Arnold yang telah
mempunyai andil dalam menyadarkan kaum muslimin lewat bukunya The Preaching in
Islam. Begitu pula, Reine yang telah masuk Islam dan tinggal di Aljazair. Ia
menulis buku Sinar Khusus Cahaya Islam. Ia meninggal di Perancis dan dikubur di
Aljazair.
3. Kelemahan
Fundamental Orientalis
Para
pengamat studi orientalis yang jujur mengemukakan beberapa kelemahan orientalis
yang sulit dipungkiri siapa pun. Di antaranya sebagai berikut.
a) Tidak
menguasai bahasa Arab secara baik, sense bahasa yang lemah, dan pemahaman yang
terbatas atas konteks pemakaian bahasa Arab yang variatif. Kelemahan ini tentu
mempengaruhi pemahaman mereka atas referensi-referensi Islam yang inti, seperti
Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, pemahaman mereka tentang Islam dan
risalahnya rancu dan kabur. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Musthafa as-Siba’i
setelah ia meninjau langsung pusat orientalisme di sekitar Eropa dan berdialog
langsung dengan para orientalis. Para orientalis itu pada akhirnya banyak yang
mengakui bahwa keterbatasan mereka dalam memahani materi-materi keislaman lebih
menonjol ketimbang kelebihan metodologi yang mereka miliki. Bahkan, ada di
antara mereka yang berterus terang bahwa Arablah (muslimlah) yang seharusnya
memegang pekerjaan ini. Keterbatasan dalam menguasai bahasa Arab sangat
mempengaruhi pemahaman mereka tentang Islam.
b) Perasaan
“superioritas” sebagai orang Barat. Ilmuwan Barat, khususnya orientalis,
senantiasa merasa bahwa “Barat” adalah “guru” dalam segala hal, khususnya dalam
logika dan peradaban. Mereka cenderung tidak mau digurui oleh orang Timur.
c) Orientalis
Barat sangat memegang teguh doktrin-doktrin mereka yang tidak boleh dikritik,
bahkan sampai ke tingkat fanatik buta. Di antaranya dua doktrin inti, yaitu
bahwa Al-Qur’an dalam pandangan insan Barat bukan kalam Allah dan Muhammad
bukan rasul Allah. Doktrin ini sudah lebih dulu tertanam dalam pikiran mereka
sebelum meneliti, sebab ini merupakan doktrin agama mereka yang ditanamkan
sejak kecil. Sehingga, penelitian yang dilakukannya diarahkan hanya untuk
mendukung asumsinya saja, bukan ingin mencari kebenaran secara objektif dan
bebas. Karena itulah, peneliti-peneliti Barat menelan mentah-mentah
riwayat-riwayat palsu, membesar-besarkan masalah kecil, menggunakan tuduhan
palsu sebagai argumentasi, dan beralasan dengan sesuatu yang tidak diakui
sebagi dalil. Mereka menolak semua pendapat yang berbeda dengan pikirannya,
sekalipun itu benar dan argumentatif. Apa yang bisa diperoleh dari
manusia-manusia seperti ini?
d) Dari
segi metodologi, dia telah memiliki prakonsepsi dan tidak mau dikritik, bahkan
fanatis. Oleh karena itu, hati-hati dengan hasil karya mereka. Sebab, dari
mereka ada yang bersikap halus. Dalam tulisan-tulisannya, mereka sengaja
menyajikan Islam secara benar dan kejayaannya di masa silam. Tetapi, ada satu
atau dua poin konsep yang sangat membahayakan mereka selipkan dalam tulisan
itu. Pujian dan sanjungan mereka terhadap Islam di permulaan bertujuan untuk
menggiring pembaca untuk membenarkan seluruh isi buku dan tidak merasakan
hal-hal yang ganjil, sehingga berkesimpulan bahwa penulis tersebut jujur dan objektif.
Misalnya, kasus Noel J. Coulson, orientalis Inggris, guru besar “hukum Islam”
di Universitas London. Sepintas lalu dengan membaca karya-karyanya, orang akan
mengira bahwa Coulson adalah orientalis yang jujur. Karena, ia mengakui bahwa
sistem hukum Islam adalah sistem yang dinamis, bisa digunakan, dan telah
mengakar dalam sanubari umatnya. Berbeda sekali dengan pandangan gurunya,
Joseph Schacht yang terang-terangan anti-hukum Islam, dan menuduhnya dengan
sederetan tuduhan keji yang tidak masuk akal. Di sela-sela sanjungannya dalam
buku A History of Islamic Law, Coulson punya sejumlah pendapat yang aneh-aneh
tentang kekuatan As-Sunnah sebagai sumber hukum dan tentang ushul fiqih.
Coulson mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah “founder” ‘penemu’ ushul fiqih.
Sebuah pendapat yang tidak pernah dibenarkan oleh ahli-ahli ushul fiqih
sendiri. Ia juga berpendapat bahwa kedudukan As-Sunnah sebagai pelengkap
Al-Qur’an untuk menyelami kehendak Ilahi pertama kali dikemukakan oleh Imam
Syafi’i. Sepintas lalu Coulson terkesan mengagumi kehebatan Imam Syafi’i (yang
memang hebat, walapun tidak perlu dikagumi Coulson), tetapi ada suatu kesan
terselubung dari ungkapan itu. Yakni, bahwa sebelum Imam Syafi’i ilmu ushul
fiqih belum ada. Padahal, rentang waktu dua abad sebelumnya justru merupakan
pondasi berdirinya “building” ushul fiqih pada fase-fase berikutnya. Pandangan
Coulson itu mengesankan bahwa sebelum datangnya Imam Syafi’i, para fuqaha tidak
memiliki kerangka berijtihad yang disepakati bersama. Jelas ini merupakan sebuah
pemutarbalikkan fakta. Lalu, bagaimana dahulu para fuqaha selama dua ratus
tahun menetapkan hukum bagi kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat Islam,
kalau mereka tidak punya standar yang disepakati bersama? Apakah mereka harus
menunggu selama dua abad tidak berijtihad, hingga Imam Syafi’i datang?
e) Banyak
dari kajian-kajian orientalisme yang terkait erat dengan kepentingan
negara-negara tertentu yang mendanai kajian itu. Percuma saja negara-negara
Barat menghamburkan uangnya jutaan bahkan miliaran dollar hanya untuk
kepentingan ilmiah semata, kalau bukan karena ada target-target tertentu yang
sangat berharga bagi kepentingan mereka. Target itu bisa bersifat politis,
bisnis, strategis, dan misi. Hal ini seperti pernah diungkap oleh Prof. Ismail
al-Faruqi dalam sebuah artikelnya di majalah The Contemporary Muslim bahwa
studi Islam di Barat, khususnya di Amerika Serikat, tidak pernah luput dari
misi zionis dan salibis. Orientalis yang mengajar di jurusan itu, katanya,
sebagian besar orang Yahudi atau Kristen fanatis. Di beberapa universitas
Amerika, studi Islam ditempatkan di Fakultas Lahut (teologi), jurusan
“misionarisme” dan materinya dikenal dengan “perbandingan agama”. Dosen-dosen
yang ada di sana kerjanya mencari “titik-titik lemah” Islam untuk diserang.
Oleh karena itu, kajian-kajian mereka banyak menyangkut aliran-aliran yang
menyimpang. Misalnya, Syi’ah, Isma’iliyah, Tasawud (mistisisme), Ahmadiyah, an
Baha’iyyah. Jika mereka belajar Al-Qur’an, hadits, dan fiqih, motivasinya
adalah untuk mengkritik kebenaran materi-materi itu. Dan ultimate-goal-nya
untuk mencari “titik-titik lemah”.
4. Penelitian
Yang Pernah Dilakukan Oleh Orientalis (Christiaan
Snouck Hurgrounje)
Christiaan
Snouck Hurgrounje, ia lahir di Osterhoot, Belanda pada 8 Pebruari 1857 dan meninggal
di Leiden pada 26 Juni 1936. Menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas
Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab pada tahun 1880 dengan
predikat cum laude. Ia berasal dari keluarga Pendeta Protestan Tradisonal,
namun lingkungan belajarnya sampai tingkat tertentu adalah liberal. Snouck
berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya
Muhammad yang mengandung ajaran agama.
Pada
tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah berkata: “Adalah
kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan, maksudnya warga muslim
Indonesia agar terbebas dari Islam”. Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck
terhadap Islam tidak pernah berubah.
Snouck
mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan
bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum
pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah
penjajahan Belanda. Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak.
Tak
cukup bangga dengan kemampuannya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke
Mekkah pada tahun 1884 dan juga atas perintah dari JA Kruyt Konsul Belanda di
Jeddah. Dia dikirim untuk melakukan penelitian tentang Islam. Saat tinggal di
Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar
Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa
Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk
mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Pada saat itu pula, ia menyatakan
ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama
“Abdul Ghaffar.” Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya
menyebutkan “Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak,
dan ulama- ulama Mekah telah mengakui keIslaman Anda”. “Seluruh aktivitas
Snouck selama di Saudi tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden,
Belanda.
Snouck
menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama
besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885.
Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi
kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena
tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama.
Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan
tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.
Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk
ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck
masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekah.
Snouck
tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan
asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga
keturunan Arab, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah
penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim.
Selain
itu, ia juga dibantu sahabat lamanya ketika di Makkah, Haji Hasan Musthafa yang
diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri
memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam
bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga
setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.
5. Latar
Belakang penelitian Snouck
Realitas
budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck
selanjutnya. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan
sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa
konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa
peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam
yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan
peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas
dosa-dosa mereka.
Ringkasnya,
agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama
dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan
pemikiran Snouck selanjutnya.
6. Tujuan
Penelitian Snouck
Dalam
penelitiannya, Snouck memusatkan perhatiannya pada tiga hal. Pertama, dengan
cara bagaimana sistem Islam didirikan. Kedua, apa arti Islam didalam kehidupan
sehari-hari dari pengikut- pengikutnya yang beriman. Ketiga, bagaimana cara
memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk mengajak orang Islam
bekerjasama guna membangun suatu peradaban yang universal.
Namun,
Misi utama Snouck di indonesia adalah “membersihkan” Aceh. Setelah melakukan
studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat, Snouck menulis
laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian
jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai
masalah Aceh.
Pada
bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam,
‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang
berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama.
Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena
mereka hanya memikirkan bisnisnya.
Snouck
menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah
yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang
sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap
Belanda. Jika dimungkinkan “pembersihan” ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka
Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat
bisa menguasai dengan mudah.
Bagian
kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan
dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan
rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang
untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa
Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.
7. Metode
Penelitian Yang Digunakan Snouck
Selama
di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan
pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh
Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama.
Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan
tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.
Cara
yang ditempuh di Aceh sama dengan yang dilakukannya di Saudi, yaitu membangun
hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi
yang dibutuhkan. Dan orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah
seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa,
Snouck menerima surat yang bertuliskan “Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana
Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. “
Lebih
aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat
bernama Sangkana pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak:
Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim. Pada tahun 1895, Sangkana meninggal dunia,
kemudian tahun 1898 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo,
seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.
Pada tahun 1910 Snouck melangsungkan pernikahan dengan Ida Maria, putri Dr.AJ
Oort, pendeta liberal di Zutphen, perkawinannya yang ketiga ini dilangsungkan
di negeri Belanda.
Snouck
juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Noldekhe, seorang
orientalis Jerman terkenal. Dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keislaman
dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi
mendapatkan informasi. Ia menulis “Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah
satu-satunya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. “
8. Kontribusi
Akademik Dari Hasil Penelitian Snouck
Setelah
Aceh dikuasai Belanda pada tahun 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar
biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya, 26 Juni
1936, dia tetap menjadi penasihat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi
di Nusantara. Kebesarannya selalu dikenang, dialah ilmuwan yang dijuluki `dewa”
dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor
penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya. Ia berjasa
menunjukkan kekurangan- kekurangan dalam dunia Islam dan perkembangannya di
Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen “Snouck Hurgronjehuis” untuk
mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya. Christiaan Snouck Hurgronje, tokoh
penting peletak dasar kebijakan “Islam Politiek” merupakan “Pembaratan Islam
Pribumi” kini diteruskan oleh para pewaris.
9. Kesimpulan
Dari Penelitian Snouck
Ia
berlindung di balik nama “penelitian Ilmiah” dalam melakukan aktifitas
spionase, demi kepentingan penjajah. Salah seorang peneliti Belanda yang secara
khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap
masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang
Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan
ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia
pura-pura masuk Islam.
Dalam
rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus
memantau peristiwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan
spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku.
Pertama berjudul “Aceh,” memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat
Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis
laporan untuk pemerintah Belanda berjudul “Kejahatan Aceh.” Buku ini memuat
alasan-alasan memerangi rakyat Aceh. Dua buku ini bertolak belakang dari sisi
materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di
dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh.
Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah
untuk memerangi rakyat Aceh.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
sejarah
Berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para pelajar barat
yang datang ke dunia timur untuk mengkaji
ilmu.
Metode
pendekatan yang digunakan secara garis besar terbagi dalam empat bagian yaitu:
Pertama, menggunakan metode ilmu-ilmu yang masuk dalam kelompok humaniora
(humanities), Kedua, metode dalam disiplin teologi, Ketiga, metode ilmu-ilmu
sosial (sosial sciences), Keempat, pendekatan yang dilakukan di
jurusan-jurusan, pusat-pusat, atau hanya committee, untuk area studies.
Meski
ada orientalis yang selalu ingin memojokan islam namun ada juga orientalis yang
netral. Selain itu ternyata mereka juga memiliki beberapa kekurangan dalam
melakukan studi tentang islam.
DAFTAR PUSTAKA
1. Drs.Atang
Abd.Hakim, MA.Dr. Jaih Mubarao. 2006. Metodologi Studi Islam.
(Jakarta:Rosdakarya).
2. Daud
Rasyid. 2002. Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. (Jakarta: Akbar,
Media Eka Sarana)
3. Dr.
Daud Rasyid, MA. 2003. Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan
Konspirasi. (Jakarta: Usamah Press.)
Comments
Post a Comment