CONTOH MAKALAH AKIDAH AKHLAK
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kehadiran
agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya
kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama
mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber
ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Sedangkan akal
pikiran sebagai alat untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Ketentuan ini
sesuai dengan agama Islam itu sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah
SWT. Hal demikian dinyatakan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara
kamu”.
Islam
mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran
melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam
memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian
sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada
kualitas dan berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian aqidah akhlak?
2.
Apa saja sumber dari akidah
akhlak itu?
3.
Macam Akidah dan Akhlak
4.
Bagaimana hubungan antara akidah
dan akhlak?
5.
Bagaimana sistematika aqidah
akhlak?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui pengertian aqidah akhlak
2.
Mengetahui sumber dari akidah akhlak
3.
Mengetahui Macam Akidah dan Akhlak
4.
Mengetahui Bagaimana hubungan antara akidah dan akhlak
5. Mengetahui Bagaimana sistematika aqidah akhlak
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Akidah Akhlak
Menurut
bahasa, kata aqidah berasal dari bahasa Arab yaitu [عَقَدَ-يَعْقِدُ-عَقْدً]
artinya adalah mengikat atau mengadakan perjanjian. Sedangkan Aqidah menurut
istilah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterima
dengan rasa puas serta terhujam kuat dalam lubuk jiwa yang tidak dapat
digoncangkan oleh badai subhat (keragu-raguan). Dalam definisi yang lain
disebutkan bahwa aqidah adalah sesuatu yang mengharapkan hati membenarkannya,
yang membuat jiwa tenang tentram kepadanya dan yang menjadi kepercayaan yang
bersih dari kebimbangan dan keraguan.
Menurut
Syaikh Thahir al-Jazairy
Aqidah Islamiyah
adalah perkara-perkara yang
diyakini oleh orang- orang muslim yang
berarti mereka teguh terhadap kebenaran perkara-perkara tersebut.
Menurut
Hasan al-Banna
Aqidah adalah
beberapa perkara yang wajib diyakini
kebenarannya oleh hati, menentramkan
jiwa dan menjadikan keyakinan
yang tidak ada keraguan dan kebimbangan yang mencampurinya.
Berdasarkan
pengertian-pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa aqidah adalah dasar-dasar
pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber dari ajaran
Islam yang wajib dipegangi oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang
mengikat.
Sementara
kata “akhlak” juga berasal dari bahasa Arab, yaitu [خلق]
jamaknya [أخلاق]
yang artinya tingkah laku, perangai tabi’at, watak, moral atau budi pekerti.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak dapat diartikan budi pekerti,
kelakuan. Jadi, akhlak merupakan sikap yang telah melekat pada diri seseorang
dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Jika tindakan
spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama, maka disebut akhlak yang
baik atau akhlaqul karimah, atau akhlak mahmudah. Akan tetapi apabila tindakan
spontan itu berupa perbuatan-perbuatan yang jelek, maka disebut akhlak tercela
atau akhlakul madzmumah.
Definisi
akhlak menurut al-ghazali ialah:
الخلق
عبا رة عن هيئة في النفس را سخة عنها تصد را لا فعا ل بسهول
و
يسر من غير حا جة الى فكر و رؤية
“Akhlak ialah
sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan segala perbuatan yang dengan
gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan, Menurut
pengertian di atas, jelaslah bahwa hakikat akhlak menurut Al-Ghazali harus
mencakup 2 syarat:
a.
Perbuatan itu harus konstan yaitu
dilakukan berulang kali (kontinu) dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi
kebiasaan.
b.
Perbuatan konstan itu harus
tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya tan pertimbangan dan
pikiran, yakni bukan adanya tekanan atau paksaan dari orang lain.
Sejalan
dengan pendapat Al-Ghazali di atas, Ibnu Maskawaih dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlak
mengatakan bahwa akhlak adalah sifat jiwa yang tertanam dalam jiwa yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran
dan pertimbangan.
Dari
beberapa definisi akhlak di atas dapat dilihat ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Pertama, perbuatan akhlak adalah
perbuatan yang telah tertanam kuat dalam diri seseorang sehingga telah menjadi
kepribadiannya.
b.
Kedua, perbuatan akhlak adalah
perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini tidak berarti
bahwa pada saat melakukan suatu perbuatan yang bersangkutan dalam keadaan tidak
sadar, tidur atau gila. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan
dalam keadaan sehat akal pikirannya.
c.
Ketiga, perbuatan akhlak adalah
perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa adanya
paksaan atau tekanan dari orang, yakni atas kemauan pikiran atau keputusan dari
yang bersangkutan.
d.
Keempat, perbuatan akhlak adalah
perbuatan yang dilakukan sesungguhnya bukan main-main atau bukan karena
sandiwara.
e.
Kelima, perbuatan yang dilakukan
karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji-puji orang
atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. Dari pengertian akidah dan akhlak
di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran akidah akhlak adalah upaya
sadar dan terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami,
menghayati, dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak
mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.
Aqidah
adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia.
Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan
terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak.
Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang
yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji
atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT
mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki
akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi
larangan-Nya.
Akidah
adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi
manusia untuk berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Akan tetapi sebaliknya, akidah-akidah hasil rekayasa manusia berjalan sesuai
dengan langkah hawa nafsu manusia dan menanamkan akar-akar egoisme dalam
sanubarinya. Akhlak mendapatkan perhatian istimewa dalam akidah Islam.
Rasulullah
saww bersabda:
بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ
اْلأَخْلاَقِ
(Aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).
Dalam
hadis lain beliau bersabda: “Akhlak yang mulia adalah setengah dari agama”.
Salah seorang sahabat bertanya kepada belaiu: “Anugerah apakah yang paling
utama yang diberikan kepada seorang muslim?” Beliau menjawab: “Akhlak yang
mulia”
Islam
menggabungkan antara agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini, agama
menganjurkan setiap individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai
kewajiban (taklif) di atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa
baginya. Atas dasar ini, agama tidak mengutarakan wejangan-wejangan akhlaknya
semata tanpa dibebani oleh rasa tanggung jawab. Bahkan agama menganggap akhlak
sebagai penyempurna ajaran-ajarannya. Karena agama tersusun dari keyakinan
(akidah) dan perilaku. Dan akhlak mencerminkan sisi perilaku tersebut.
B.
Sumber Akidah
Akhlak
Sumber
aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh
Allah SWT dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya wajib diimani
(diyakini dan diamalkan).
Akal
pikiran tidaklah menjadi sumber akidah, tetapi hanya berfungsi memahami
nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba kalau
diperlukan membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an
dan Sunnah, itu pun harus didasari oleh kesadaran bahwa kemampuan akal sangat
terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak
akan mampu menjangkau masalah-masalah ghaib, bahkan tidak akan mampu menjangkau
sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.
Ilmu
aqidah adalah ilmu yang membahas keyakina manusia kepada Allah SWT. Ilmu aqidah
disebut juga ilmu tauhid. Kata tauhid berasal dari wahhada,yuwahhidu,tauiddan,
artinya mengesakan,atau mengi’tikadkan bahwa Allah Maha Esa.
Oleh
sebab itu akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab
pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu
membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran si pembawa berita tentang hal-hal
ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh akal fikiran.
Sebagian
ulama menambahkan ijma’ sebagai sumber ajaran Islam ketiga setelah Al-Qu’an dan
sunah. Penjelasan dari sumber-sumber akidah akhlak yaitu sebagai berikut:
1.
Al-Qur’an
Dasar
aqidah akhlak adalah ajaran Islam itu sendiri yang merupakan sumber-sumber
hukum dalam Islam yaitu Al Qur’an. Al Qur’an adalah pedoman hidup dalam Islam
yang menjelaskan kriteria atau ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia.
Dasar aqidah akhlak yang pertama adalah
Al Qur’an dan ketika ditanya tentang aqidah akhlak Nabi Muhammad SAW, Siti
Aisyah berkata.” Dasar aqidah akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al Qur’an.”
Islam
mengajarkan agar umatnya melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk.
Ukuran baik dan buruk tersebut dikatakan dalam Al Qur’an. Karena Al Qur’an
merupakan firman Allah, maka kebenarannya harus diyakini oleh setiap muslim.
Dalam
Surat Al-Maidah ayat 15-16 disebutkan yang artinya “Sesungguhnya telah datang
kepadamu rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu
sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang
kepadamu cahayadari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah
menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan
kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada
cahaya yang terang benderang dengan izinNya, dan menunjuki meraka ke jalan yang
lurus.”
2.
As-Sunnah
Dasar aqidah akhlak yang kedua bagi seorang muslim adalah AlHadits atau Sunnah Rasul. Untuk memahami Al Qur’an lebih terinci, umat Islam diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW, karena perilaku Rasulullah adalah contoh nyata yang dapat dilihat dan dimengerti oleh setiap umat Islam (orang muslim).
C.
Macam-macam
Akidah dan Akhlak
Seorang muslim tanpa aqidah yang benar
akan menjadi manusia yang mudah terombang-ambing. Ia tidak memiliki pegangan
kuat, sehingga mudah tergelincir pada kesesatan atau kemaksiatan. Untuk itu
diperlukan pengetahuan mengenai berbagai macam aqidah. Sehingga kita tahu
perbuatan mana saja yang masih sesuai aqidah, dan mana yang tidak.
Macam
Aqidah Menurut Tauhidnya
Aqidah
yang benar berarti meyakini Allah SWT, malaikat-malaikatNya, rasulNya,
kitabNya, hari akhir, dan qada & qadar. Di dalam aqidah, ada tauhid, yaitu
keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa. Ada tiga macam aqidah tauhid,
yaitu :
1.
Aqidah Tauhid Rububiyah
Macam aqidah
yang pertama adalah aqidah tauhid rububiyah, yang berarti keyakinan bahwa
satu-satunya Dzat yang menciptakan alam semesta adalah Allah SWT. Tauhid
rububiyah telah Allah sampaikan di dalam Al Quran, salah satunya di surat
Maryam. Allah berfirman, “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala
sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah
dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan
Dia (yang patut disembah)?” (QS.Maryam: 65).
Selain mengakui
bahwa Allah yang mencipta alam semesta, tauhid rububiyah juga mencakup
keyakinan bahwa hanya Allah juga yang mengatur kelangsungan hidup makhluk
ciptaanNya. Misalnya mereka yang beriman dan memiliki aqidah yang baik
seharusnya memahami bahwa hanya Allah yang bisa memberi dan mengatur rezeki
hamba-hambaNya, bukan yang lain.
Di surat Ar
Rahman, Allah berfirman yang artinya, “Semua yang ada di langit di bumi selalu
meminta kepada-Nya, setiap hari Dia (memenuhi) semua kebutuhan (makhluk-Nya)”.
(QS.Ar Rahman: 29).
2.
Aqidah Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah
mencakup keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dan
dipatuhi. Macam aqidah ini menjelaskan bahwa semua ibadah yang dilakukan
manusia hendaknya hanya untuk Allah SWT.
Allah berfirman
di banyak ayat di Al Quran bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. Salah
satunya di surat Ali Imran ayat 18. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwa
tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar
selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana”.
Seseorang yang
memiliki aqidah yang baik juga hendaknya memiliki macam aqidah ini. Dalam
pelaksanaannya, aqidah uluhiyah tampak ketika seseorang mengerjakan segala hal
hanya untuk Allah. Mulai dari ibadah ritualnya, hingga aktivitas yang
dilakukannya.
3.
Aqidah Tauhid Asma Was Sifat
Aqidah ini
mencakup keyakinan terhadap sifat-sifat dan nama-nama Allah, atau yang biasa
disebut Asmaul Husna. Allah adalah Dzat yang memiliki nama-nama mulia yang
menggambarkan sifat-Nya. Kita dianjurkan untuk menyebut nama Allah sesuai
dengan sifat yang kita perlukan saat berdoa.
Allah berfirman,
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa
yang telah mereka kerjakan” (QS.Al A’raf: 180).
Adapun
Macam-macam Akhlak adalah sebagai berikut:
- Akhlak
Al-Karimah
Akhlak
Al-karimah atau akhlak yang mulia sangat amat jumlahnya, namun dilihat dari
segi hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, akhlak yang
mulia itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Akhlak terhadap Allah merupakan
pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki
sifat-sifat terpuji sedemikian Agung sifat itu, dan jangankan manusia,
malaikatpun tidak akan menjangkau hakekatnya.
Akhlak
terhadap Diri Sendiri Akhlak yang baik terhadap diri sendiri yang artinya
menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga diri sendiri dengan sebaik-baik
mungkin, karena sadar bahwa dirinya itu sebagai ciptaan dan amanah Allah yang
harus dipertanggungjawabkan dengan sebenar-benarnya. Akhlak terhadap sesama
manusia.
Manusia
merupakan makhluk sosial dan optimal banyak bergantung pada orang lain, untuk
itu, ia perlu bekerjasama dan saling tolong-menolong dengan orang lain. Islam
menganjurkan berakhlak yang baik kepada saudara, karena ia berjasa dalam ikut
serta mendewasaan kita, dan merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Caranya
dapat dilakukan dengan memuliakannya, memberikan bantuan, pertolongan dan
menghargainya sesama.
2.
Akhlak
Al-Mazmumah
Akhlak
Al-mazmumah (akhlak yang tercela) merupakan lawan atau kebalikan dari akhlak
Al-Karimah. Dalam ajaran Islam tetap membicarakan secara terperinci dengan
maksud agar bisa dipahami dengan benar, dan dapat diketahui cara-cara
menjauhinya.
Berdasarkan
petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, sebagai
berikut:
·
Berbohong
adalah memberikan atau mengatakan informasi yang tidak sesuai dengan
kenyataannya.
·
Takabur
(sombong) adalah merasa atau mengakui dirinya besar, tinggi, mulia, melebihi
orang lain.
·
Dengki adalah
rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan atau keberhasilan yang diperoleh
orang lain.
·
Bakhil atau kikir
merupakan sukar memberi sebagian dari apa yang dimilikinya itu untuk orang
lain.
D.
Hubungan Akidah
dengan Akhlak
Akidah
adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi
manusia untuk berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Akhlak mendapatkan perhatian istimewa dalam akidah Islam.
Rasulullah
SAW bersabda yang artinya:“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Islam
menggabungkan antara agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini agama
menganjurkan setiap individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai
kewajiban (taklif) diatas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa
baginya. Atas dasar ini agama tidak mengutarakan akhlak semata tanpa dibebani
rasa tanggung jawab. Bahkan agama menganggap akhlak sebagai penyempurna
ajaran-ajarannya. Karena agama tersusun dari keyakinan (akidah) dan perilaku.
Oleh
karena itu akhlak dalam pandangan Islam harus berpijak pada keimanan. Iman
tidak cukup hanya disimpan dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan
sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik.
Menurut
Mahmud Syaltut, tidak diragukan lagi bahwa untuk memperguanakan dan menjalankan
bagian aqidah dan ibadah perlu pula berpegang kuat dan tekun dalam mewujudkan
bagian lain yang disebut dengan bagian akhlak. Sejarah risalah ketuhanan dalam
seluruh prosesnya telah membuktikan bahwa kebahagiaan di segenap lapangan hanya
diperoleh dengan menempuh budi pekerti (berakhlak mulia).
Prof.
Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddiequ di dalam bukunya Al Islam mengatakan:
Kepercayaan
dan Budi pekerti dalam pandangan Al-Qur’an hampir dihukum satu, dihukum
setaraf, sederajat. Lantaran demikianlah Tuhan mencurahkan kehormatan kepada
akhlak dan membesarkan kedudukannya. Bahkan Allah memerintahkan seorang muslim
memelihara akhlaknya dengan kata-kata perintah yang pasti, terang, dan jelas.
Para muslim tidak dibenarkan sedikit juga menyia-nyiakan akhlaknya, bahkan tak
boleh memudah-mudahkannya.
Akidah
tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat
berlindung di saat kepanasan dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik.
Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan layang-layaang bagi benda yang
tidak tetap, yang selalu bergerak. Oleh karena itu Islam memberikan perhatian
yang serius terhadap pendidikan akhlak.
Rasulullah
SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada kesempurnaan dan
kebaikan akhlaknya. Sabda beliau: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya
ialah mereka yang paling bagus akhlaknya”. (HR. Muslim)
Dengan
demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah
laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari
imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai
iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai
Iman yang lemah. Muhammad al-Gazali mengatakan, iman yang kuat mewujudkan
akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlak yang jahat
dan buruk.
Nabi
Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan melahirkan
perangai yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya iman. Orang
yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan
iman. Beliau bersabda:
الحياء
والايمان قرناء جميعا فاذا رفع احدهما رفع الاخر (رواه الكاري)
”Malu
dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilang pula
yang lain”. (HR. Hakim)
Kalau
kita perhatikan hadits di atas, nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan
dengan iman hingga boleh dikatakan bahwa tiap orang yang beriman pastilah ia
mempunyai rasa malu; dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti tidak
beriman atau lemah imannya.
Akidah
erat hubungannya dengan akhlak. Akidah merupakan landasan dan dasar pijakan
untuk semua perbuatan. Akhlak adalah segenap perbuatan baik dari seorang
mukalaf, baik hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan
hidupnya. Berbagai amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan
terkontrol dari berbagai penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan akidah
yang kuat. Oleh sebab itu, keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya
antara jiwa dan raga.
Hal
ini dipertegas oleh Allah dalam Al-Qur’an yang mengemukakan bahwa orang-orang
yang beriman yang melakukan berbagai amal shaleh akan memperoleh imbalan pahala
disisi-Nya. Dia akan dimasukkan ke dalam surga firdaus. Penegasan ini
dikemukakan dalam firman Allah sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat
tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.
(QS. Al-kahfi: 107-108)
Ayat
di atas memperlihatkan betapa pentingnya akidah dan akhlak, dengan keterpaduan
keduanya seseorang akan memperoleh pahala yang besar disisi Allah dengan
jaminan surga Firdaus.
Hubungan
antara akidah dan akhlak ini tercermin dalam pernyataan Nabi Muhammad SAW yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang artinya:
“dari
Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,’orang mukmin yang sempurna imannya ialah
yang terbaik budi pekertinya”
Akidah
sebagai dasar pendidikan akhlak “Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim
adalah aqidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan
dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan
benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula
sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah.
Dengan
akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan
ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan mampu mengimplementasikan
tauhid ke dalam akhlak yang mulia (Akhlakul Karimah). Karena barang siapa
mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah
berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh
atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkan-Nya.
E.
Ruang Lingkup
Akidah Akhlak
a.
Ilahiyat, yaitu pembahasan
tentang segala susuatu yang berhubungan dengan Tuhan (Allah), seperti wujud
Allah, sifat Allah dll
b.
Nubuwat, yaitu pembahsan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan Nabi dan Rasul, pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah dll
c.
Ruhaniyat, yaitu tentang segala
sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti jin, iblis, setan, roh
dll
d.
Sam'iyyat, yaitu pembahasan
tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'i, yakni dalil Naqli
berupa Al-quran dan as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan Azab Kubur,
tanda-tanda kiamat, Surga-Neraka dsb.
F.
Sistematika
Akidah Akhlak
a.
Iman kepada
Allah
Pengertian iman
kepada Allah ialah: Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah Membenarkan
dengan yakin keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam, makhluk
seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluknya. Membenarkan dengan
yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari sifat
kekurangan yang suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). Dengan
demikian setelah kita mengimani Allah, maka kita membenarkan segala perbuatan
dengan beribadah kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala
larangannya, mengakui bahwa Allah swt. bersifat dari segala sifat, dengan
ciptaan-Nya di muka bumi sebagai bukti keberadaan, kekuasaan, dan kesempurnaan
Allah.
b.
Iman Kepada
Malaikat
Beriman kepada
malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk yang dinamai
“malaikat” yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan
tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman akan
malaikat ialah beritikad adanya malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan
rasul-rasul-Nya, yang membawa wahyu kepada rasul-rasul-Nya.
c.
Iman kepada
kitab-kitab Allah
Keyakinan kepada
kitab-kitab suci merupakan rukun iman ketiga. Kitab-kitab suci itu memuat wahyu
Allah. Beriman kepada kitab-kitab Tuhan ialah beritikad bahwa Allah ada
menurunkan beberapa kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun
yang berhubungan dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup
manusia. baik untuk akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara individu maupun
masyarakat.
Jadi, yang
dimaksud dengan mengimani kitab Allah ialah mengimani sebagaimana yang
diterangkan oleh Al-Qur’an dengan tidak menambah dan mengurangi. Kitab-kitab
yang diturunkan Allah telah turun berjumlah banyak, sebanyak rasulnya. Akan
tetapi, yang masih ada sampai sekarang nama dan hakikatnya hanya Al-Qur’an.
Sedangkan yang masih ada namanya saja ialah Taurat yang diturunkan kepada Nabi
Musa, Injil kepada Nabi Isa dan Zabur kepada Daud.
d.
Iman kepada Nabi
dan Rasul
Yakin pada para
Nabi dan rasul merupakan rukun iman keempat. Perbedaan antara Nabi dan Rasul
terletak pada tugas utama. Para nabi menerima tuntunan berupa wahyu, akan
tetapi tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu itu kepada umat
manusia. Rasul adalah utusan (Tuhan) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang
diterima kepada umat manusia.
e.
Iman kepada hari
Akhir
Rukun iman yang
kelima adalah keyakinan kepada hari akhir. Keyakinan ini sangat penting dalam
rangkaian kesatuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhirat
sama halnya dengan orang yang tidak mempercayai agama Islam, itu merupakan hari
yang tidak diragukan lagi.
f.
Iman kepada qada
dan qadar
Dalam
menciptakan sesuatu, Tuhan selalu berbuat menurut Sunnahnya, yaitu hukum sebab
akibat. Sunnahnya ini adalah tetap tidak berubah-ubah, kecuali dalam hal-hal
khusus yang sangat jarang terjadi. Sunnah Tuhan ini mencakup dalam ciptaannya,
baik yang jasmani maupun yang bersifat rohani. Makna qadar dan takdir ialah
aturan umum berlakunya hukum sebab akibat, yang ditetapkan olehnya sendiri.
G.
Tujuan
Pembelajaran Aqidah Akhlak
Tujuan
dari pembelajaran Aqidah Akhlak adalah untuk :
a.)
Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,pengamalan,
pembiasaan, serta pengalaman tentang aqidah islam sehingga menjadi manusia
muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.
b.) Mewujudkan masyarakat Indonesia yang
berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehiduupan sehari-hari ,
baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran
dan nilai-nilai aqidah islam.
Adapun
untuk nilai-nilai akhlak yang dikembangkan di sekolaah/madrasah adlah:
1.
Berhati lembut, bekrja keras , tekun dan ulet ,
2.
Terbiasa berfikir kritis, sedderhana, sportif dan bertanggung jawab.
3.
Terbiasa berprilaku Qana’ah, toleran, dan beretika dalam pergaulan sehari-hari.
Jadi
akhlak merupakan hal yang sangat penting dalam islam. Seseorang akan mendapat
nilai dari caranya bertingkah laku dari akhlaknya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sumber
aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh
Allah SWT dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya wajib diimani
(diyakini dan diamalkan). Sebagian ulama menambahkan ijma’ sebagai sumber
ajaran Islam ketiga setelah Al-Qu’an dan sunah.
Al
Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban
untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi
manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala perintah Allah dan
menjauhi segala larangannya.
As-Sunnah
sering disebut juga dengan hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad
SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir). Hadits
merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Allah SWT telah
mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan
oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya.
Akidah
erat hubungannya dengan akhlak. Akidah merupakan landasan dan dasar pijakan
untuk semua perbuatan. Akhlak adalah segenap perbuatan baik dari seorang
mukalaf, baik hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan
hidupnya. Berbagai amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan
terkontrol dari berbagai penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan akidah
yang kuat. Oleh sebab itu, keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya
antara jiwa dan raga.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Majid, S. M. (2012). pendidikan karakter perspektif islam. bandung: pt remaja
rosdakarya.
Amudidin.
(2006). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Graha Ilmu.
Anwar,
A. R. (2012). Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka setia.
Anwar,
R. (2008). Akidah Akhlak . Bandung: Pustaka Setia.
Drs.
M. Yatimin Abdullah, M. A. (2007). Studi Akhlak dalam Persepektif Al-Qur’an.
Jakarta: Amzah.
Drs.
Muhammad Alim, M. A. ( 2006). Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Ilyas,
Y. (2010). Kuliah aqidah islam. Yogjakarta: LPPI.
Rohman,
R. A. (2007). Akidah dan Akhlak. Bengkulu: Tiga Serangkai.
Saebani,
B. A. Ilmu akhlak. Bandung: Pustaka Setia.
Suhendi,
H. (2011). Akidah Akhlak. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Syarifuddin,
P. D. (2011). garis-garis besar akidah akhlak. jakarta: kencana.
Comments
Post a Comment